Mitologi Jawa – Ndaru

 

 

*cerita ini hanyalah fiktif belaka. Mikea selaku penulis membuat cerita berdasarkan kreasi dan kepercayaan masyarakat yang ada.

 

Mulai…

Keadaan sudah semakin tak terkendali. Keributan terjadi di setiap sudut negeri ini. Kebun buah-buahan di tengah hutan itu yang menjadi penyebabnya. Orang-orang yang kelaparan menjadi brutal demi berebut buah-buahan itu. Memang, selama ini mereka hanya memakan apa yang ada di sekitar rumah mereka. Namun, dengan makanan terbatas, mereka telaten membagi makanan yang ada hingga rata bagi seluruh negeri. Tidak ada yang ingin makan lebih banyak. Mereka tidak sanggup melihat orang sekitarnya mati karena kelaparan.

Kekacauan ini bermula saat empat anak muda memutuskan untuk masuk ke hutan di atas bukit. Hutan itu adalah tempat yang terlarang bagi penduduk negeri ini. Tak ada satu orang pun yang berani masuk hutan ini. Menurut cerita, hutan ini ditunggu oleh makhluk yang akan memangsa orang hidup-hidup. Setiap orang yang masuk hutan ini pasti tidak akan pernah kembali lagi. Namun, Ndaru dan ketiga sahabatnya yakni Pulung, Guntur dan Teluhbraja tetap bertekad untuk masuk hutan itu.

Sejak saat itu, para penduduk ramai-ramai masuk hutan dan mengambil buah-buahan menggoda di dalamnya. Semakin lama, mereka saling ribut untuk berebut makanan bahkan adu mulut dan berkelahi sudah menjadi hal yang sehari-hari terjadi. Seperti tadi pagi, Ndaru yang baru saja keluar rumah mendapati seorang kakek tua dipukuli oleh penduduk. Rupanya kakek tersebut baru turun dari bukit dengan membawa sekarung buah. Sang kakek berencana menimbun buah di rumahnya dan mengambilnya dari hutan malam hari agar tidak ada orang yang tahu.

Ndaru merasa miris hatinya melihat keadaan saat ini. Menurutnya, ini semua tidaklah tepat. Sudah beberapa malam dia tidak bisa tidur. Digulingkan badannya ke kiri dan ke kanan, ditatapnya langit langit kamarnya. Sesak dadanya, dan tiba-tiba dia meneteskan air mata. Teringat darah yang cucuran dari kakek tua tadi, muka lebam anak muda yang bebera hari lalu dia temui. Belum lagi orang saling menyumpah nyerapahi satu sama lain. Dipejamkannya matanya yang panas, dengan lirih dia berkata “Duh Gusti, mengapa ini semua semua terjadi, apakah salah ku yang telah lancang masuk hutan itu. Jika memang itu penyebabnya, maka hukumlah aku. Jangan engkau membuat semua penduduk saling menyakiti. Lebih baik aku mati diterkam makhluk dalam hutan dari pada kembali dan membawa mala petaka ini. Tak kuat lagi hati ku menahan beban ini.”

Malam itu, udara terasa dingin. Penduduk keluar rumah dan mulai mencari kayu bakar untuk menghangatkan diri. Dalam kesibukan itu, beberapa orang melihat ada seberkas cahaya kuning kemerah-merahan muncul dari langit. Cahaya itu maki lama makin turun dan menuju ke sebuah tempat. Para penduduk terus mengikuti arah cahaya tersebut. Hingga akhirnya cahaya tersebut menghilang di atas rumah Ndaru. Cahaya tersebut seakan-akan musnah dan berpendar keseluruh bagian rumah Ndaru. Para penduduk masih takjub sekaligus bergidik. Tak penah sekalipun mereka melihat cahaya macam itu. Setelah kejadian itu, muncul desas desus terkait cahaya misterius yang menghilang di atas rumah Ndaru.

Hati Ndaru masih saja kalut. Lalu kemudian dia pergi menemui sahabat-sahabatnya. Dia bercerita tentang apa yang dia rasakan, dia tahan, dan dia pikirkan. Teman-temannya pun mendengarkan dengan saksama, bersimpati. Sambil manggut-manggut Pulung dan lainnya terdiam dan termenung setelah mendengarkan semua yang Ndaru utarakan. “Keadaan ini tidak boleh dibiarkan saja. Bagaimanapun kita adalah orang yang harus bertanggung jawab terhadap masalah ini”, kata Pulung. Teluhbraja kemudian menimpali perkataan Pulung. “Menurutku, kalaupun itu salah kita, kita tidak bisa hanya memelihara rasa sesal dan bersalah. Yang bisa kita lakukan hanyalah bagaimana cara memperbaiki keadaan sekarang ini. Masalah utamanya adalah pembagian buah-buahan itu. Karena buah itu milik bersama, maka semua orang merasa berhak untuk mengambilnya. Dan karena tidak adanya peraturan yang mangatakan seberapa banyak yang boleh mereka ambil, maka mereka mengambil sesuka mereka. Orang-orang saling merasa dicurangi, sehingga mereka meluapkan emosinya dengan main hakim sendiri”, tambah Teluhbraja.

Ndaru kemudian menyahut penuturan Teluhbraja. “Harus ada aturan. Begitu bukan?. Aturan yang disepakati bersama, sehingga semua akan merasa terikat dengan aturan ini. Berdasar aturan ini pula kita bisa mengatan apakan seseorang telah melewati batasannya. Tapi, bagiamana cara kita menyampaikan gagasan kita ini ke penduduk?”, kata Ndaru.

Guntur teringat jika kemarin dia telah selesai membuat tempat penampungan air yang sangat besar. Guntur menyelesaikannya dalam lima hari setelah menempa dengan sunnguh barang dari besi itu. Kemudian tercetus idenya. “Kurasa aku bisa membuat penduduk berkumpul dan dari situ kita akan coba menyampaikan gagasan kita. Aku akan memukul tempat air yang kemarin baru selesai ku buat. Rasanya suara tong itu akan keras dan dapat didengar oleh penduduk. Mereka akan segera berkumpul setelah mendengar bunyinya”, kata Guntur.

Keempat sahabat itu pun segera ke rumah Guntur dan memmbantu Guntur memindahkan tong tadi ke tengah lapangan. Setelah susah payah, akhirnya mereka berhasil. Guntur kemudian menabuh tong itu berkali-kali. Suara nayaring namun menggelegar terdengar ke seluruh penjuru negeri. Orang-orang coba mencari dari mana sumber suara tersebut. Sampai akhirnya orang-orang telah ramai berkumpul di lapangan. Mereka heran dengan apa yang dilakukan oleh keempat pemuda ini. Mereka bertanya-tanya kepada satu sama lain.

Disampaikanlah gagasan empat sahabat ini kepada penduduk. Sambutan baik pun dapat. Kesepakatan demi kesepatan didapatkan. Setelah berunding lama dan sepakat terhadap semua aturan tiba-tiba ada penduduk yang berteriak. “Bukankah kita perlu punya ketua untuk menjaga aturan ini tetap dijalankan”, kata penduduk tersebut. Kemudian semua orang saling berbisik-bisik. Para penduduk mulai mengait-ngaitkan kejadian semalam, tentang cahaya yang jatuh di rumah Ndaru. Cahaya semalam menjadi sebuah pertanda bagi penduduk untuk memilih Ndaru menjadi ketua dalam menjaga aturan ini. Nama Ndaru mulai disebut-sebut. Ketiga sahabat Ndaru pun tersenyum dan memberikan dukungan pada Ndaru untuk menerimanya. Ndaru melangkah mantab ke tengah lapangan dan berkata, “Aku akan bersikap adil dan mengawal jalannya aturan ini dengan sebaik-baiknya. Tentu saja aku tidak akan sendiri. Pulung akan membantuku untuk mengatur jadwal pengambilan buah di bukit, Teluhbraja akan membantu proses pembagian buah untuk penduduk dan Guntur yang akan membantu menindak jika ada orang yang melanggar aturan yang telah kita sepakati”.

Sejak saat itu, Ndaru mulai dieluh-eluhkan penduduk. Mereka percaya, Ndaru adalah orang yang ditunjuk oleh yang Kuasa untuk menjadi pemimpin mereka. Rupanya yang tampan dan menawan membuat nama Ndaru semakin bersinar. Mereka juga terus-menerus menceritakan bahwa cahaya kuning kemerahan dari langit saat itu merupakan sebuah pertanda. Pertanda bahwa mereka harus memilih Ndaru. Hingga akhirnya mereka pun menyebut cahaya itu dengan cahaya Ndaru.

Hari berganti hari, keempat sahabat ini pun menjalankan tugasnya masing-masing dengan baik. Pulung selalu pulang terlambat, gila kerja rupanya dia. Dia sangat sabar menemani penduduk memetik buah dibukit. Meski badannya pegal-pegal, muka kalem dan lembutnya masih jelas terlihat. Pulung merasa ada yang memperhatikannya dari belakang saat dia menuruni bukit. Dia tengok kanan kiri, tidak ada siapa-siapa.  Hari berikutnya, Pulung kembali merasa seperti ada yang mengikutinya. Dia kemudian menceritakan kegelisahannya pada sahabat-sabahatnya. Sahabatnya berkata mungkin dia terlalu lelah karena kerja terlalu keras. Pulung akhirnya pulang dan beristirahat.

Keesokan harinya, Pulung bertugas seperti biasanya. Dirasanya badannya lebih segar dari biasanya. Senyumnya pun terus mengembang membuat wajahnya berseri-seri. Ketika hendak pulang, tiba-tiba dia teringat parangnya masih tertinggal di atas bukit. Akhirnya dia menyuruh para penduduk untuk pulang lebih dahulu dan dia akan menyusul setelah mengambil parangnya.

Dada Pulung berdegup kencang, takut sekaligus panik. Namun begitu dia begitu penasaran, cahaya apakah gerangan yang begitu indah turun dari langit. Didekatinya sekitar tempat cahaya tersebut jatuh. Perasaannya bertambah tak karuan ketiga melihat gubuk kecil disana. Dia yakin, dia telah menjelajah seluruh ini. Tak ada satu tempatpun yang terlewatkan. Sejauah ini, tidak pernah ia menemukan gubuk di hutan ini. Semakin besarlah rasa penasarannya. Pulung ragu untuk coba masuk ke gubuk itu. Akhirnya dia beranikan diri untuk masuk.

Dua pasang mata itu saling menatap satu sama lain. Bingung. Mungkin itu yang mereka rasakan. Pulung tergagap menanyakan siapa gadis itu. Iya, dia seorang gadis. Gadis manis berambut panjang yang tinggal dalam gubuk. Sang gadis ketakukan, kemudian menjelaskan bahwa dia tinggal di gubuk itu sejak lahir. Orang tuanya dulu juga adalah penduduk biasa, namun mereka pergi ke hutan dan enggan kembali turun. Lalu kini tinggalah sang gadis sebatangkara di dalam hutan. Sampai dia menemukan Pulung dan penduduk desa mengambil buah di dekat gubuknya. Dia mengikuti Pulung karena penasaran siapa orang-orang yang tak pernah ia lihat ini. Gadis ini tak bernama, hingga akhirnya Pulung memberi nama gadis ini Lintang Kemukus, seperti cahaya bintang jatuh yang menuntunnya menemukan sang gadis. Diajaknya gadis ini turun dari bukit, menemui sahabatnya yang lain.

Wajah gadis ini yang manis, serta senyumnya yang tulis membuat hati para sabahat Pulung berdebar-debar. Terutama Guntur dan Teluhbraja. Mereka sungguh telah terpikat pada Lintang Kemukus. Ingin sekali gadis ini dijadikannya istri. Sampai larut malam, Guntur dan Teluhbraja tidak dapat tidur. Masing-masing masih terbayang wajah ayu Lintang Kemukus. Dalam hatinya sungguh berharap, Lintang mau membalas cinta mereka.

Hawa panas malam ini tidak seperti biasanya. Penduduk mencoba keluar rumah, mencari udara segar. Sedang hanya Teluhbraja dan Guntur yang tidak keluar rumah. Mereka masih saja berkecamuk dengan gejolak jiwanya untuk Lintang. Hingga munculah cahaya dari langit. Satu berwarna ungu bercampur merah muda jatuh di atas atap rumah Teluhbraja, sedangkan satu lagi berwarna merah kebiru-biruan jatuh di rumah Guntur. Penduduk mulai menerka-nerka, cahaya apakah tadi, apakah sama seperti cahaya Ndaru? Tidak ada yang tahu.

Keesokan harinya, hati Teluhbraja panas menlihat Lintang Kemukus bercengkarama akrab dengan Ndaru. Dijumpainya Guntur. Teluhbraja yang terbakar api cemburu mulai menghasut Guntur. Guntur yang juga menaruh hati pada Lintang Kemukus pun geram mendengar penuturan sahabatnya ini.  Tak hanya itu, entah setan apa yang merasuki Teluhbraja, kecerdikannya yang selama ini memberikan jalan keluar bagi setiap permasalahan kini dia gunakan untuk menciptakan hasutan di masyarakat. Dikatakannya bahwa Ndaru menimbun banyak makanan di rumahnya. Makanan itu digunakannya untuk merayu Lintang Kemukus agar mau menjadi istrinya. Warga menjadi gempar. Hilang sudah kepercayaannya kepada Ndaru. Warga bergegas mencari Guntur untuk menindak Ndaru yang dianggap telah menyalahi aturan.

Wajah Guntur yang tegas ditambah dengan ekspresi kemarahannya membuat Lintang Kemukus ketakutan. Dipanggilnya Ndaru untuk menemui sahabatnya ini. Tanpa sepatah kata Guntur langsung memukul wajah Ndaru. Melihat kejadian ini, Pulung pun segera mencoba melerai mereka. Tak disangka, Pulung justru mendapat pukulan salah sasaran dari Guntur hingga akhirnya dia jatuh terjerembab.

Paska kejadiannya, keempat sahabat ini masih beradu mulut tentang siapa yang salah. Pulung hanya geleng-geleng tak mengerti. Sebenarnya, apa yang terjadi. Ditambah kejolak diantara penduduk makin besar, kepercayaan terhadap mereka berempat semakin menurun. Mulai banyak orang-orang yang melanggar aturan, mencuri dan menimbun. Pulung coba menyampaikan masalah ini kepada ketiga sahabatnya, namun lagi-lagi, ketiga sahabatnya ini masih menggunakan emosi dan amarah mereka saat berbicara. Akhirnya, titak ditemukanlah jalan keluar. Justru Guntur semakin menjadi-jadi. Disiksanya para pelangar aturan tanpa ampun, tanpa belas kasih. Semua murkanya dia lampiaskan, hingga membunuhpun dia tak menyesal. Seakan-akan setan pun takut diamuk oleh Guntur.

Pulung yang sedih duduk termenung di taman memikirkan keadaan ini. Lintang Kemukus mencoba menghampirinya dan mencoba bertanya masalah apa yng sebenarnya Pulung pikirkan. Mendengar penuturan Pulung, Lintang Kemukus berkata, “Mungkinkah ini berkaitan dengan cahaya dari langit yang dimaksud orang-orang. Maksudku, jika dulu cahaya kuning kemerah-merahan dari langit menjadikan Ndaru sebagai orang yang paling dipercaya untuk menjaga aturan, apakah berubahnya sifat Guntur dan Teluhbraja juga karena cahaya dari langit? Kurasa memang mungkin saja. Katamu mereka adalah orang-orangyang baik, tapi aku tida melihat Guntur dan Teluhbraja begitu”, kata Lintang Kemukus.

Kedekatan Pulung dan Lintang Kemukus disadari oleh Teluhbraja, hatinya semakin panas, semakin berkecamuk. Dipanggilnya Ndaru serta Guntur untuk menyaksikan Pulung dan Lintang Kemukus yang sedang berdua-duaan. “Lihatlah, ternyata yang selama ini berulah adalah Pulung. Sahabat yang kita kira paling bijak diantara kita. Dia menciptakan kekacauan ini untuk membuat kita bertengkar satu sama lain sehingga dia bisa dengan leluasa mendekati Lintang Kemukus”, kata Teluhbraja.

Tanpa menunggu lama, Guntur langsung menyeret Pulung dan dihajarnya tanpa ampun. Melihat Pulung yang hampir mati, Ndaru hanya diam saja, dia tak mampu mengambil sikap karena tak tahu mana yang benar. Sedangkan Teluhbraja mencoba menahan senyumnya, begitu puas dia melihat Pulung tersiksa. Ndaru akhirnya memerintahkan untuk menghanyutkan Pulung ke laut dari pada melihat Pulung mati dibunuh Guntur disini. Bagaimanapun Pulung dan Guntur adalah sahabatnya. Dia tidak ingin Pulung mati dan tidak ingin Guntur menjadi menjadi pembuhuh. Hanya dengan keputusan membuang Pulunglah yang dapat menghentikan Guntur dan menyelamatkan nyawa Pulung.

Pada saat penduduk telah meninggalkan tepi laut, Lintang Kemukus berenang mengejar perahu Pulung yang telah hanyaut. Sampai akhirnya Pulung dan Lintang Kemukus terdampar di suatu negeri yang kelaparan, sama seperti saat negerinya dulu belum menemukan bukit berbuah itu. Para penduduk bekumpul di tepi pantai setelah melihat cahaya berwarna biru kehijauan jatuh ke arah perahu Pulung.

Pulung dan Lintang Kemukus disambut hangat oleh penduduk. Pulung dan Lintang dianggap sebagai pembawa keberuntungan di negeri ini. Setelah kedatangan mereka, banyak pohon buah-buahan yang tumbuh dari biji yang jatuh dari kantong baju mereka. Mereka juga mengatakan cahaya yang mereka lihat di tepi pantai itu adalah cahaya Pulung, cahaya keberuntungan, beruntung mereka menemukan Pulung yang sangat ramah dan penuh kasih sayang, serta memberikan berkah makanan pada mereka.  Pulung dan Lintang Kemukus pun akhirnya menikah dan dikaruniai seorang anak.

Advertisements

Yangon, beginning

Tiga bulan sudah di kota Yangon, yang dulu bernama Rangoon. Usut punya usut, sebelumnya lagi nama kota ini adalah Dagon, nama sebuah kerajaan jaman dahulu kala. Dalam tulisan kali ini , yuk bahas bagaimana sih sekilas tentang Yangon. Yuks..

Curhat dikit nih ya.. Ke Yangon ini sebenernya dalam rangka kerja dan menuntaskan misi pribadi. hehehe..

Selama tiga bulan disini yang bisa dibagikan adalah :

Mata uang disini Kyat (dibaca chat) cara ngitungnya begini, kalo di Indonesia punya duit Rp 100.000 disini setara dengan 10.000 Kyat. Gampangnya sih begitu, kecuali kalo lagi ada inflasi tinggi tuh, boleh diitung lagi.

Kosa kata awal yang dibisa Minglabar (dibaca minglaba..) yang artinya apa ya.. semacam sapaan aja. Mau selamat sore, selamat siang maupun selamat malam ya bilang aja minglabar

Kalau mau belanja, kosa kata pentingnya pasti buat tanya harga kan.. bilang aja Blaule yang artinya berapa. Enaknya kalo belanja, orang-orang sini bisa lah bahasa inggris satu dua tiga empat gitu.. orang juga ramah-ramah kok.

Kalau bilang terima kasih bigini nih Chezu tinbade (biasanya aku bilangnya cepet, jadi mirip ngomong gini cezutimale…

Saat ini, saat nulis pos ini, menurutku, paket data internet disini mahal e.. kayak paketan telkomsel kalau di Indonesia, tapi gak ada tuh promo 30 giga 60 ribu. hehehehe.. Intinya mau beli sedikit, maupun bergiga giga, harga pergiganya ya sama aja. Makanya disini Instagram gak laku, yang laku keras itu Facebook.

Nyambung poin sebelumnya, facebook di sini setara sama google lho.. Bayangin, kalau mau cari info apapun, langkah pertama ada search aja di facebook. Cuman ya begitu, yang keluar ya bakalan huruf yang terdiri dari n u c dan c kebalik gitu. uncuncucncuc.

Oiya, kesan pertama secara pribadi sih, mual ters seminggu pertama di Yangon. Ada bau khas sesuatu. Dan sesuatu itu adalah bau orang se Yangon raya yang sedang ngunyah sirih. Kalau sekarang sih gak mual lagi, asal gak lihat orang cuah cuih itu sirih di depan mata aja, atau kalau gak pas ada orang yang habis nyirih trus ngomongnya deket-deket muka.

Satu lagi, orang di sini sehari-hari pake sarung yang disebut longyi (dibaca longji ya..). Baik perempuan maupun laki, begitu semua tuh, cuman yang perempuan motifnya banyak yang lucu-lucu.

Sayang beribu sayang, koleksi foto masih dikit. Di pos berikutnya bakalan coba kasih foto-foto penampakannya lah. Sementara satu foto dulu yang diambil dari lantai atas kantor.WhatsApp Image 2018-06-11 at 2.46.31 PM

Discreate Event Simulation pada UKM Tas Asemrowo

Semester 6 lalu, dari kampus ada mata kuliah simulasi. Waktu itu ngambil contoh amatan UKM tas di Asem rowo. Sebenernya itu UKM adalah patner bisnis dulu waktu ngerjain PKM. Bingung juga waktu ngerjain Tugas ini. Agak ngrasa kalo permasalahannya cenderung sedikit dipaksakan. Tapi ya namanya proses belajar, jadi boleh saja gini dulu, keterbatsan waktu juga waktu dulu. Maklum, ini satu kelompok pada deadliners semua, sukanya ngerjain kalo udah mepet dead line. Cuman untuk menghargai karya ini, karya sini aku upload aja di sini. Semoga bermanfaat.

2C_Pembuatan Tas Asem Rowo

Sekolah basa basi

sedikit suka sama tulisan ini,,
banyak setuju sama pemikirannya,,
semoga pemikiran seperti ini dimiliki banyak orang,,

CORBUZIER

Coba tanya sama orang tua kalian… Suka balet? Mau tidak belajar balet?

Suka catur? Gimana kalau les catur? Mau tidak mereka…

Itu masalahnya…

Masalah kenapa kalau kita tidak suka matematika…kita dipaksa belajar matematika… Kalau tidak suka biologi kita dipaksa belajar biologi..

Dan bahkan di berikan pelajaran tambahan matematika pulang sekolah..

Saya ingat sekali saat saya SMP mata pelajaran matematika saya jelek.. Dan saya pun di les kan pada… Siapa lagi kalau bukan GURU matematika saya sendiri (kerja sampingan)… Dan apakah saya jadi pintar matematika sekarang? Ya tetap tidak…

Mengapa saya tidak cukup belajar pertambahan.. Lalu perkalian.. Atau basic basic nya saja… Mengapa saya harus belajar rumus TANGEN… ATAU RUMUS RUMUS lainnya yang saya tidak pakai mungkin sampai saya mati nanti…

Balet… Dasarnya adalah lompat.. Tekuk kaki.. Dll.. Semua org bisa kan.. Tapi tidak semua orang harus bisa balet kan?

Manusia adalah unik… Apalagi anak anak yang masih berkembang… Mengajari ikan…

View original post 428 more words

By mikeantika

Rafting Ala Banjir, Goa Pindul, Jogja

Udah setahun lalu kayaknya aku sama temen-temen lab KOI pergi ke Jogja buat Studi Ekskursi. Nah, salah satu tempat yang jadi tujuan adalah Goa Pindul. jadi di sana itu, selain wisata ke Goanya, ada juga wisata rafting gitu. Katanya harusnya sih bagus, cuman waktu kami pas kesana, kalinya malah banjir. Ya, jadinya airnya coklat gitu, gak keliatan batu-batu kalinya. tapi tetep seru sih. pertamakalinya juga rafting gini. bayangan awalku sih kita bakal pakek prahu karet gitu, eh ternyata prahu karetnya  yang bentuk donat alias “ban”. hehehe….

rafting Goa Pindul

rafting Goa Pindul

Dolan: Air Terjun Pletuk, Sooko, Ponorogo

Image

Liburan kemarin, aku sama temen-temen sampat bertandang ke Pletuk, sebuah air terjun yang berada di Kecamatan Sooko, Ponorogo. Sudah sejak SMP aku dengar tentang tempat ini, tapi tak pernah sekalipun sempat mendatangi. Padahal kalo dipikir pikir tempat ini gak jauh-jauh amat dari rumah. Jadi ngrasa cupu tingkat akut nih,,

Komentar tentang tempat ini: sebenarnya lekukkan air terjunnya lumayan bagus, tapi sayangnya airnya agak keruh, gak jauh beda kayak warna kali di tempatku. Tempat parkir udah ada sama warung kecil, lumayan. Yang bikin asyik sebenernya adalah perjalannanya. Biasalah.. bawa motor, jalan ada tanjakan dan tingkungan dikit ke kanan kiri, banyak pohon, sawah dan lain-lain, yap, itu dia,

Semoga bisa mengunjungi tempat lain lagi dan dapat cerita baru lagi, I wish that

Welcoming Party Lab. KOI TI ITS 2014

Kamis, 13 Pebruari 2014,

Selepas Adzan magrib berkumandang, suasana Laboratorium Kumputasi dan Optimasi Industri ( Lab KOI) mulai ramai dipenuhi para administrator (sebutan untuk asisten Lab KOI) untuk mengikuti acara Welcoming Party. Acara  ini merupakan acara yang diselenggarakan untuk menyambut masuknya administrator baru yang akan melaksanakan tugasnya mulai semester ini.

Acara yang dihadiri Bapak Budi Santosa, selaku kepala laboratorium sekaligus Ketua Jurusan Teknik Industri ITS dibuka  pada pukul 18.45. Diawali dengan sambutan dari ketua pelaksana, Resa Irwanto, kemudian dilanjutkan oleh  Hasyim Yusuf  selaku Koordinator Asisten dan tak lupa perkenalan admin baru yang terdiri dari 5 orang yakni Resa, Chrisman, Nindya, Lola dan Mike serta satu orang admin yang baru kembali dari study  exchange  ke Malaysia yakni Ovita. Perbincangan ringan berjalan menarik selama jalannya acara yang berlangsung di dalam Lab KOI ini,  mulai dari administrator yang lulus semester ini, masalah akademik dan berbagai hal lainnya.  Kekeluargaan yang tercermin ketika acara potong tumpeng serta penampilan akustik dari admin baru semakin memeriahkan suasana. Tak mau kalah, Bapak Budi santosa pun mulai memetik dawai gitar dan mengiringi para administrator menyanyikan beberapa lagu lama dari Dewa 19.

  WP Lab. KOI picture

 

 

Aside

angin berhembus

bertiup menghempaskan asa

bersama bahak tawa orang di sana

menekuk, membungkam,

biarlah daun melayang terbuai angin kesesatan

biarlah matahari bersembunyi malu dibalik awan hitam itu

jika memang saat ini hujan ditahan dalam awan

petir amarah menggelegar dalam hati

kabut jiwa memperkeruh keadaan

maka, aku akan tetap bertahan

hujan ini hujan asam

tak boleh meluncur ke pipi yang mulus ini

tak boleh diminum dan tak boleh disentuh

ini langitku, ini awanku, ini atmosferku

bukan kau yang membuat ini asam

bukan dia pula

karena keadaan yang memaksa

tapi ini sulit diterima

meski pawang membantu menahan kucur hujan

namun bila awan pada titik kejenuhan

maka

sajak keluh kesahku

goa maria, sooko, ponorogo

Imagegoa maria,

sudah sejak jaman SMP pengen banget ke tempat ini, eh baru kali ini kesampaian.

dulu aku bayangin goa maria itu gak kayak yang tak lihat ini.

seru sih sebernya jalan-jalan ke sini, tapi kayaknya aku salah milih waktu. bersama empat cewek lainnya dengan melewati jalan yang wah luar biasa (tanjakan lebih dari 45 derajat plus jalannya menikung) akhirnya sampai di tempat tujuan. seperti di puncak bukit.

aneh rasanya, lima cewek berkerudung pergi ke suatu tempat ziarah yang hanya kami pangenjung hari itu. dengan suasana hening ala gunung yang diisi lolongan anjing-anjing penjaga.

suasana rindang dan gak biasa menurut saya, entah kenapa terbayang-bayang terbawa hingga saya tidur malam. mungkin juga karena perginya lupa gak pamitan sama orang tua, hehe..

makanya, harus selalu pamitan kalau mau pergi